Memperkenalkan diri sebagai komunitas, Gita Selaras Indonesia menggelar perayaan Hari Kartini. Acara dimeriahkan oleh aksi paduan suara dari para anggotanya, serta berbagai booth yang menjual kain, pakaian, dan aneka aksesori bergaya khas etnik di Indonesia.

“Karena anggota kita adalah ibu-ibu, para wanita, kita merayakan Hari Kartini sekaligus launching keberadaan Gita Selaras Indonesia,” tutur Asye Azhar, Ketua Gita Selaras Indonesia, Rabu (24/04) di Pendopo Arjuna Synthesis Residence Kemang, apartemen karya Synthesis Development, tempat berlangsungnya acara. “Sebagai wanita pula sudah sepatutnya kita mensyukuri dan merayakan kelahiran R.A. Kartini.”

Gita Selaras Indonesia merupakan perkumpulan bagi ibu-ibu yang menyukai kesenian, terutama seni suara dan seni tari. Maka salah satu aktivitasnya yakni menyalurkan kesukaan anggotanya itu dalam wadah kegiatan paduan suara, yang hari ini unjuk kebolehan membawakan tembang Ibu Kita Kartini karya W.R. Supratman, serta pop lawas seperti Chiquitita, Fernando, dan I Have A Dream dari grup musik ABBA.

Dalam perayaan Hari Kartini ini, Asye pun mengungkapkan kekagumannya kepada Pahlawan Nasional Indonesia yang terkenal lewat buku Habis Gelap Terbitlah Terang itu. “Pemikiran-pemikiran Kartini banyak menginspirasi perempuan Indonesia,” jelasnya di antara 70-an anggota Gita Selaras Indonesia yang hadir dan mengunjungi show unit apartemen karya Synthesis Development ini, “bahwa perempuan Indonesia utamanya harus kuat, tidak boleh dijajah, serta memiliki kesetaraan gender.”

Ia menambahkan, “Kesetaraan gender ini dalam rambu-rambu bahwa secara alami kita tetaplah perempuan, yang mempunyai tugas sebagai ibu, istri, dan pengayom anak. Tapi, sebagai warga negara tentunya wanita harus memiliki kesempatan buat berkarya dan bermanfaat untuk negara.”

Gita Selaras Indonesia juga merasa punya tanggung jawab dalam mendorong para wanita generasi muda untuk menjadi penerus-penerus Kartini. “Sebagai ibu, kita adalah pelaku yang mendidik Kartini-Kartini masa kini untuk menjadi Kartini-Kartini masa depan.

“Yakni dengan mendorong mereka untuk mencintai budaya sendiri, mencintai negaranya, dan berkontribusi kepada negara dengan karya-karya mereka di masa depan. Bangkitlah anak-anakku!” tegasnya.

X