Emansipasi dan tantangan zaman kian mendorong perempuan untuk turut bekerja. Acara Nongkrong Bareng Tempo yang diadakan oleh Tempo Institute menghadirkan tiga perempuan inspiratif untuk berbagi soal “Perempuan dan Karir”. Digelar di Marketing Gallery Synthesis Residence Kemang, Sabtu (28/04), bekerja sama dengan Synthesis Development dan Prajawangsa City, ini dia sekelumit kisah dan lika-liku mereka dalam menjalani profesinya masing-masing.

null

Berpendidikan rendah, berprofesi sebagai tukang pijat, dan lebih pantas di rumah daripada bekerja, hanyalah beberapa dari sekian banyak stigma yang kerap menempel pada para tuna netra. Namun semua itu mampu ditepis oleh , seorang jurnalis Tempo yang dua tahun belakangan kehilangan penglihatannya akibat diabetes (retinopati diabetik).

Saat menjalankan tugasnya sehari-hari, dirinya tetap menggunakan komputer maupun smartphone, dengan bantuan software khusus untuk tuna netra. Ketika melakukan peliputan, dirinya selalu ditemani seorang pendamping dan perekam.

Meski awalnya terasa berat, namun kini ia terlihat cukup santai menerima jalan hidupnya. “Lagi jalan kecebur got itu sudah biasa,” ujarnya sambil tertawa. Di balik itu ada ‘nasehat’ yang memompa semangatnya. “Saat satu indera tertutup, maka indera lainnya berfungsi maksimal. Begitu pula ketika dua atau tiga indera lain tidak berfungsi. Tuhan sudah memprogramnya untuk melengkapi satu sama lain,” ucap Cheta menirukan perkataan seorang temannya sesama tuna netra. “Maka berusahalah, hingga tersisa satu indera, yaitu penciuman. Itu adalah napas kita. Bila indera tersebut hilang, berarti sudah selesai tugas kita di dunia.”

null

Duduk di samping Cheta ialah Rahne Putri, blogger dan freelance social media consultant. Wanita ini tidak lain adalah orang di balik akun @anjinggombal yang sempat populer di awal era Twitter. Meninggalkan pekerjaannya sebagai Social Media Head sebuah perusahaan setelah punya anak, Rahne memutuskan untuk tetap bekerja sebagai freelancer (pekerja lepas).

“Jadi freelancer,” tuturnya, “ternyata malah lebih sibuk, hahaha…” Ia mengaku, “Menjalani sebuah profesi bagi saya merupakan bentuk aktualisasi diri, di samping munculnya rasa percaya diri ketika mendapat penghasilan dari apa yang saya kerjakan. Tapi bukan berarti menjadi wanita karier lebih baik daripada ibu rumah tangga, karena itu juga profesi.”

Sementara, freelance photographer Rosa Panggabean lebih tegas dalam mengungkapkan pentingnya bekerja tanpa harus memandang gender. “Pada dasarnya setiap manusia mesti bekerja.” Karena bagi wanita berpembawaan tomboi ini, selain memenuhi kebutuhan hidup, bekerja juga menambah pengalaman hidup dan makin membuka cakrawala dalam memaknai hidup.

null

Pun tidak masalah pada bidang pekerjaan yang umumnya didominasi kaum Adam. Sebagai seorang fotografer, apalagi spesialisasinya sebagai photo journalist, Rosa berada di ranah yang tebilang tak begitu banyak dipilih oleh perempuan. Untuk meyakinkan lebih dari 20 peserta hari itu, yang sebagian besar adalah perempuan, ia bertanya sembari memperlihatkan slide-slide foto hasil jepretannya sendiri maupun karya fotografer lain, “Kita bisa menemukan perbedaan maupun persamaan di antara foto-foto tersebut. Namun dapatkah kita memastikan foto-foto itu diambil oleh seorang pria atau wanita?” Tidak bisa.

X