Bukan hanya warga lokal, Warga Negara Asing (WNA) banyak yang tertarik untuk membeli properti di Indonesia. Biasanya tujuannya untuk investasi atau rencana pensiun. Orang Asing yang dimaksud di sini adalah orang yang bukan Warga Negara Indonesia yang keberadaannya memberikan manfaat, melakukan usaha, bekerja, atau berinvestasi di Indonesia.

Kepemilikan properti untuk WNA di Indonesia memang dibatasi. Ada sejumlah ketentuan yang membedakan WNA dengan WNI dalam hal pembelian properti. Berikut ketentuan-ketentuannya:

Harga rumah minimal senilai miliaran rupiah

Ada batasan harga rumah yang boleh dibeli oleh WNA. Harga tersebut disesuaikan dengan daerah masing-masing. Misalnya di DKI Jakarta, harga minimal untuk rumah tinggal sebesar Rp 10 miliar. Sedangkan untuk apartemen, sebesar Rp 5 miliar. Namun harga minimal di kota lain pun berbeda-beda.

Peraturan ini dibuat agar warga asing tak memiliki kemudahan dalam mengakses rumah murah. WNI pun bisa tetap memiliki banyak kesempatan untuk memiliki rumah di tanah air sendiri.

Rumah yang dibeli harus dibeli langsung dari pengembang, bukan tangan kedua

Syarat lainnya adalah, rumah yang dibeli harusĀ  berupa bangunan baru yang dibeli langsung dari pihak pengembang /pemilik tanah dan bukan merupakan pembelian dari tangan kedua.

Status yang dipegang hanya Hak Pakai, bukan kepemilikan

Walaupun bisa membeli properti di Indonesia, status yang dimiliki orang asing tersebut bukanlah kepemilikan, melainkan Hak Pakai. Rumah Tunggal yang diberikan di atas tanah Hak Pakai, berlaku dalam jangka waktu 30 tahun. Kemudian, bila sudah habis, bisa diperpanjang 20 tahun lagi lalu diperpanjang kembali 30 tahun. Jadi, total buat WNA bisa memiliki rumah atau apartemen di Indonesia adalah 80 tahun.

 

 

X